Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6

PENCARIAN DATA

 
2017-06-05 11:32:23
Seri Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan Kilemo (Litsea cubeba L Persoon)

2017-06-05 11:34:05
Bunga Rampai Teknologi Pembenihan dan Pembibitan Jabon Putih

2017-06-05 11:41:45
Jurnal Perbenihan Tanaman Hutan Vol. 4 No.2, Desember 2016

2017-01-18 02:27:35
Jurnal Perbenihan Tanaman Hutan Vol. 4 No.1, Agustus 2016

 
 

PARUNG PANJANG    |    NAGRAK   |    RUMPIN

Hutan Penelitian Parung Panjang


SEJARAH SINGKAT

Hutan Penelitian Parungpanjang mulai dibangun tahun 1991 melalui kegiatan adapted research yang didanai Loan ADB 1000-INO.  Kegiatan tersebut meliputi  penelitian dan pengembangan teknologi perbenihan dan pembangunan sumber benih dengan luas awal 60 Ha dan kemudian bertambah menjadi ± 74,24 Ha.  

Kondisi awal lokasi pengembangan berupa semak belukar dan trubusan puspa (Schima wallichi).  Lokasi tersebut merupakan padang pengembalaan ternak seperti kerbau dan kambing, dan merupakan kawasan pencarian kayu bakar penduduk sekitar hutan tersebut.

Kondisi Awal Lokasi Pembangunan Hutan Penelitian
di Parungpanjang

 

                                                                                                                         Kegiatan penanaman melibatkan masyarakat lokal

Kegiatan pembangunan sumber benih dimulai dengan membangun uji keturunan A. mangium, Gmelina arborea, Paraserianthes falcataria dan Swietenia macrophylla pada tahun 1992.  Selanjutnya, tahun 1995 dilakukan penanaman uji provenan A. mangium benih bantuan CSIRO.  Kemudian pada tahun 1998, Kebun Percobaan Parungpanjang diperkaya lagi dengan membangun uji spesies dan provenan jenis Acacia spp dan jenis AYU (Andalan yang Unggul). Sejak tahun 1998 sampai saat ini, luas kebun benih Parungpanjang menjadi ± 134,24 ha.

KEADAAN UMUM HUTAN PENELITIAN PARUNGPANJANG

Kondisi Fisik
Hutan Penelitian Parungpanjang berada di Desa Gintung Cilejet dan Jagabaya, Kecamatan Parungpanjang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat.  Berdasarkan administrasi Kehutanan, lokasi berada di Resort Polisi Hutan (RPH) Jagabaya, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Parung Panjang, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bogor. 

Secara geografis, Hutan Penelitian ini terletak di antara 106º6‘ bujur timur dan  106º20‘ lintang selatan.  Lokasi berada pada ketinggian 51,71 m dpl. Tipe iklim A dengan curah hujan rata-rata 2.000 – 2.500 mm/tahun.  Topografi landai dan bergelombang. Lokasi memiliki tipe curah hujan A (klasifikasi Schmidt dan Fergusson) dengan rata-rata bulan kering dibandingkan dengan rata-rata basah lebih kecil dari 14,3%.

Tanah di Parungpanjang termasuk dalam klasifikasi jenis Podsolik Haplik, berwarna coklat, relatif dangkal dan sarang.  Tekstur tanah sebagian besar mengandung pasir (52%), liat (40%) dan sisanya berupa debu. Tingkat kesuburan tanah tergolong rendah sampai sangat rendah.  Reaksi tanah asam (pH 3,6 – 4,5), bahan organik rendah sampai sedang. Kandungan C organik dan N organik masing-masing mencapai 2,3 dan 1,2%, dan kandungan Ca dan Mg masing-masing bernilai 5 me/100g.  P dan K total rendah sampai sangat rendah, P tersedia sangat rendah, Kapasitas Tukar Kation (KTK) menunjukan nilai yang cukup tinggi (57 me/100 g), sedangkan kejenuhan basa memiliki nilai rendah (21%).  Aluminium dapat dipertukarkan (Al-dd) mencapai nilai yang cukup tinggi (11 me/100 g), sedangkan Fe tersedia dalam kondisi cukup rendah, yaitu 41 ppm. 

Kondisi Sosial Ekonomi Masyarat Sekitar

Hutan Penelitian Parungpanajang dikelilingi oleh perkampungan penduduk  Beberapa kampung diantaranya adalah Barengkok, Taloktok, Bangkonal, Leuwigoong, Serdang dan Babakan.  Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Tingkat ketergantungan penduduk setempat sangat tinggi terhadap kawasan hutan, seperti pencarian kayu bakar, pengembalaan ternak dan bercocok tanam dilakukan di dalam kawasan hutan.

Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasana yang terdapat di hutan Penelitian Parungpanjang terdiri dari bangunan kantor, 2 rumah dinas, rumah kaca, pondok pertemuan, dan gudang. Hutan penelitian ini juga telah dilengkapi dengan jaringan listrik dan instalasi air.

Fungsi dan Manfaat 
Hutan penelitian ini selain sebagai sarana pendukung kegiatan penelitian teknologi perbenihan juga sebagai lokasi bagi penelitian mahasiswa (IPB, UNPAK, UNB), lokasi pelatihan/kursus perbenihan, dan kerjasama penelitian lainnya.


Pengembangan ke depan
Berdasarkan kondisi tapaknya, hutan penelitian ini untuk ke depannya akan dikembangkan menjadi pusat pengembangan jenis-jenis pioner, uji mutu bibit, dan pengembangan teknik peningkatan produksi benih.

DEMPLOT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

 

                                                                                                                         Demplot penelitian dan pengembangan

 

Uji Keturunan A. mangium Generasi I
Uji keturunan A. mangium generasi I dibangun pada bulan Februari 1992 menggunakan 200 famili dari Subanjeriji (Sumsel) dan Kenangan (Kaltim).  Lima dari tujuh blok yang dibangun dikonversi menjadi kebun benih. Penjarangan seleksi pertama dilakukan pada tahun 1996 (intensitas 30%), kemudian penjarangan kedua dilakukan pada tahun 1997 (intensitas 50%) dan seleksi terakhir dilakukan pada tahun 2003 (intensitas 10%).  Seleksi dan penjarangan tegakan uji keturunan dilakukan dengan beberapa pertimbangan, yaitu kemajuan genetik untuk kayu pertukangan, pembungaan dan pembuahan, kekerabatan, dan target produksi benih.  Tegakan tinggal (pohon-pohon yang dipertahankan) pada akhir penjarangan berkisar 10% dari pohon yang ditanam.

Uji Keturunan A. mangium Generasi II

Materi genetik yang digunakan terdiri dari 40 famili dari Kebun Benih Generasi I, 5 famili hibah dari Sumalindo dan 5 famili dari tegakan provenans CSIRO terbaik. Secara keseluruhan materi genetik yang ditanam di kebun benih generasi II sebanyak 50 famili. Famili tersebut ditanam dalam 8 blok, jarak tanam 6 m x 3 m dengan sistem 3-tree plot.  Delapan dari 11 blok yang dibangun dikonversi menjadi sumber benih.

                                                                                                                                   Tegakan uji keturunan umur 2 tahun

Penjarangan terakhir dilakukan pada tahun 2006 dengan membuang famili-famili yang kurang baik penampilannya. Kemajuan genetik tinggi, diameter dan tinggi bebas cabang, dan diameter A. mangium setelah seleksi dan penjarangan terakhir adalah 14,1%, 9,5%, 17,4%, dan 8,7%. Panen perdana kebun benih tersebut dilakukan pada tahun 2006.

Uji Keturunan Gmelina arborea
Tegakan uji keturunan G. arborea dibangun pada tahun 1994, terdiri dari 7 blok dan menggunakan 200 famili dengan jarak tanam 3 m x 3 m (3-tree plot). Rancangan yang digunakan adalah acak lengkap berblok.  Pada tanam 1996, areal penanaman ditambah 4 blok dengan menggunakan 40 famili dengan jarak tanam dan desain yang sama dengan penanaman pertama. 
Secara umum pertumbuhan tegakan uji keturunan kurang optimal. Kondisi lahan yang terlalu basa dan miskin hara diduga menjadi sebab ketidakcocokan tanaman tersebut.  Penjarangan seleksi pada tegakan tersebut dilakukan pada tahun 2002 dan 2004. Penjarangan seleksi tersebut mempertahankan 50 famili dan menghasilkan prediksi kemajuan genetik untuk tinggi dan diameter sebesar 13,3 % dan 10,4 %.  

Uji Keturunan Swietenia macrophylla
Famili yang diuji diambil dari pohon-pohon plus yang berasal dari Jawa Barat (14 famili dari Cianjur, 12 famili dari Sumedang dan 5 famili dari Tasikmalaya), Jawa Tengah (16 famili dari Magelang dan 1 famili dari Gundih) dan Jawa Timur (28 famili dari Madiun dan 19 famili dari Jember). Penanaman dilakukan pada tahun 1996 dengan jarak tanam 3 m x 3 m dan sistem 3-tree plot. 


Uji Jenis dan Provenans 

Uji penanaman 4 Acacia 
Uji jenis dan provenans ini dibangun pada tahun 1998 yang terdiri dari 4 jenis Acacia, yaitu A. mangium (6 provenans), A. crassicarpa (6 provenans), A. aulacocarpa (3 provenans) dan A. auriculiformis (4 provenans).  Setiap jenis memiliki luas sekitar 1 Ha. Desain tanam adalah rancangan acak lengkap berblok dengan ulangan 3 kali.

 

Uji penanaman 10 jenia Acacia
Uji penanaman A. mangium, A. crassicarpa, A. aulacocarpa, dan A. auriculiformis memiliki persen hidup yang lebih baik (lebih dari 70%) dibandingkan jenis Acacia lainnya yang rata-rata persen hidupnya di bawah 50%.  A. leptocarpa meupakan jenis Acacia dengan persen hidup yang paling rendah.

 

Uji Provenans Acacia mangium CSIRO
Uji provenans ini dibangun pada tahun 1995 dengan menggunakan 19 provenans dari Australia dan PNG.  Penanaman menggunakan sistem cemplongan dengan jarak tanam 3 m x 3 m dan setiap provenan diwakili oleh 40 tanaman.  Uji provenans tersebut ditanam pada 3 petak,  yaitu petak 14, 15 dan 28.  

 

                                                                                                           Hasil analisis biplot pertumbuhan uji provenans A. mangium CSIRO

Provenans 17703, 17820, 18201, 17945, 18057, 17866, dan 18204 terletak jauh dari peubah X1 (tinggi pohon), X2 (tinggi bebas cabang), X3 (diameter batang), dan X4 (volume pohon). Hal ini mengidentifikasikan bahwa provenans tersebut tidak mempunyai keunggulan pada peubah-peubah tersebut. Kelompok lainnya yang terdiri dari provenans 18206, 18209, 18212 berada di sekitar titik pusat, yang mengindikasikan bahwa provenans tersebut nilai peubah-peubahnya berada di sekitar nilai rataan.  Beberapa provenans yang cukup menonjol pada peubah volume pohon dan tinggi pohon adalah provenans 16990 dan 18208.  Provenans 16938 dan 17946 dicirikan oleh keunggulan pada peubah tinggi pohon dan  tinggi bebas cabang.   
   
Uji Jenis AYU
Penanaman jenis andalan yang ungul (AYU) dilakukan pada bulan Februari 1998.  Tujuan penanaman tersebut adalah untuk mengkonservasi jenis-jenis tersebut dan memilik jenis yang paling baik untuk dikembangkan di Parungpanjang atau lokasi lainnya yang kondisinya mirip dengan lokasi tersebut.

 

                                                                                                                                    Tegakan pulai pada uji penanaman AYU

Uji Penaburan Langsung
Hasil penelitian uji penaburan langsung (direct seeding) beberapa jenis menunjukkan bahwa keberhasilannya sangat ditentukan oleh waktu penaburan, perlakuan pendahuluan, dan persiapan lahan sebelum penaburan. Untuk jenis-jenis Acacia, perlakuan benih direndam air panas dan dibiarkan dingin selama 24 jam ditabur dengan penugalan pada lahan yang dibersikan dan digemburkan memberikan hasil terbaik.    

                                                                                                                   Penaburan langsung A. crassicarpa umur 1 tahun

Demplot Kerjasama Penelitiaan dengan BPTH
Pembangunan unit percontohan ini merupakan kerjasama antara Balai Litbang Teknologi Perbenihan dengan Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH) Bandung yang dituangkan dalam surat Perjanjian Kerjasama No. 360/IX/BTP/RRL/2000 399C/BA/IV/BPTH-2/2000. Tujuan Pembangunan Unit Percontohan Kebun Benih  adalah melihat perbedaan pertumbuhan beberapa jenis pohon untuk sarana penyuluhan serta menghasilkan benih unggul yang kelak akan menjadi sumber benih untuk pengadaan benih bermutu dalam rangka peningkatan produktivitas hutan tanaman. Jenis-jenis yang ditanam meliputi Paraserianthes falcataria (Asalan, Solomon, Jabar, Kediri), Tectona grandis (merk dagang: jati emas plus, jati unggul, jati super), Acacia mangium, A. leptocarpa, A. melanoxylon, A. flavescens, A. cincinnata, A. hylonoma, A. crassicarpa, dan Melia excelsa.

Demplot Kerjasama Penelitian dengan PT. Monfori
Penanaman menggunakan bibit jati hasil kultur jaringan dari PT. Monfori Nusantara. Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 3 m x 3 m.   Perlakuan yang digunakan adalah tanpa pupuk dengan ukuran lubang tanam 25 cm x 25 cm x 25 cm, pupuk kandang 1 kg dengan ukuran lubang tanam 50 cm x 50 cm x 50 cm, pupuk kandang 2 kg dengan ukuran lubang tanam 50 cm x 50 cm x 50 cm, pupuk kandang 3 kg dengan ukuran lubang tanam 75 cm x 75 cm x 75 cm, pupuk kandang 4 kg dengan ukuran lubang tanam 75 cm x 75 cm x 75 cm.

 

                                                                                                                           Evaluasi tegakan uji penanaman jati super

Pertumbuhan terbaik hingga umur 3 tahun dihasilkan oleh perlakuan ukuran lubang tanam 75 cm x 75 cm x 75 cm dengan 4 kg pupuk kandang yang menghasilkan persen hidup 88%, tinggi 5,41 m dan diameter 7,21 cm.

Ir. H. Muhammad Zanzibar, MM
muhammadzanzibar@yahoo.com
 
Ir. Eliya Suita
eliyasuita@yahoo.co.id
 
© Copyright Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor. All rights reserved 2012